Di setiap ruang kelas pelatihan pengadaan yang saya masuki, selalu ada satu perasaan yang sama: rasa syukur. Bukan semata karena kesempatan mengajar, tetapi karena masih diberi ruang, waktu, dan kepercayaan untuk berbagi ilmu. Foto kegiatan pelatihan ini merekam satu momen sederhana—saya berdiri di hadapan para peserta—namun bagi saya, ia menyimpan makna yang jauh lebih dalam tentang amanah pengetahuan dan tanggung jawab untuk memberi manfaat.
Sebagai praktisi pengadaan, perjalanan saya tidak dibangun dalam sehari. Ia ditempa oleh pengalaman lapangan, dinamika regulasi, diskusi panjang, bahkan kegagalan dan kesalahan yang menjadi guru paling jujur. Semua proses itu perlahan membentuk pemahaman saya bahwa ilmu pengadaan bukan sekadar kompetensi teknis, melainkan bekal untuk menjaga kepercayaan publik, memastikan anggaran negara digunakan dengan benar, dan menghadirkan keadilan dalam proses pembangunan.

Itulah sebabnya saya selalu percaya pada satu prinsip sederhana: berbagilah ilmumu, selagi waktu masih mempersilakan kita untuk memberi. Ilmu yang disimpan terlalu lama hanya akan menjadi arsip pribadi. Namun ilmu yang dibagikan, diajarkan, dan diamalkan akan menjelma menjadi manfaat yang berlipat ganda.
Di ruang pelatihan, saya tidak hanya menyampaikan materi tentang regulasi, prosedur, atau strategi pengadaan. Saya berusaha menghadirkan konteks, nilai, dan pengalaman nyata. Karena pengadaan, pada praktiknya, selalu beririsan dengan kepentingan banyak pihak dan menuntut kepekaan moral yang tinggi. Setiap keputusan pengadaan memiliki konsekuensi, bukan hanya administratif, tetapi juga sosial.
Melihat para peserta pelatihan, dengan latar belakang yang beragam, mulai dari aparatur pemerintah, praktisi, hingga calon-calon pengelola pengadaan, selalu mengingatkan saya bahwa ilmu yang saya miliki hari ini mungkin menjadi pegangan mereka dalam mengambil keputusan penting di masa depan. Di situlah letak tanggung jawab besar seorang pengajar: memastikan bahwa ilmu yang disampaikan tidak hanya benar secara aturan, tetapi juga bijak secara nilai.

Saya sering mengatakan kepada peserta bahwa amalkan pengetahuanmu, selama masih ada yang membutuhkan. Pengadaan tidak berhenti pada kelulusan pelatihan atau sertifikat kompetensi. Justru tantangan sesungguhnya dimulai ketika kembali ke unit kerja masing-masing, berhadapan dengan realitas, tekanan, dan godaan yang nyata. Di situlah ilmu diuji, apakah ia hanya menjadi hafalan, atau benar-benar menjadi kompas dalam bertindak.
Mengajar pengadaan juga mengajarkan saya untuk terus belajar. Setiap kelas adalah ruang dialog. Pertanyaan-pertanyaan kritis peserta, studi kasus yang mereka bawa, dan pengalaman lapangan yang dibagikan sering kali memperkaya sudut pandang saya sendiri. Berbagi ilmu, pada akhirnya, bukan proses satu arah. Ia adalah pertukaran, saling menguatkan, dan saling mengingatkan.
Dalam konteks yang lebih luas, saya meyakini bahwa pengadaan yang sehat membutuhkan ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan. Tidak cukup hanya mengandalkan regulasi dan pengawasan. Kita memerlukan insan pengadaan yang memiliki kesadaran etik, keberanian moral, dan keinginan untuk terus memperbaiki diri. Dan semua itu berawal dari proses belajar dan berbagi ilmu.

Pesan yang selalu saya pegang adalah: gunakan setiap ilmu yang kau miliki untuk membawa manfaat bagi sesama. Manfaat itu bisa hadir dalam berbagai bentuk. Bisa berupa proses pengadaan yang lebih transparan, keputusan yang lebih adil, efisiensi anggaran yang berdampak pada pelayanan publik, atau bahkan keberanian untuk berkata “tidak” pada praktik yang menyimpang.
Foto pelatihan ini, bagi saya, bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Ia adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan. Kesempatan untuk berbagi tidak selalu datang dua kali. Selagi kita masih diberi kesehatan, kesempatan, dan kepercayaan, maka berbagi ilmu adalah bentuk syukur yang paling nyata.
Saya juga menyadari bahwa tidak semua orang akan langsung memahami atau menerima apa yang kita ajarkan. Namun tugas seorang pendidik dan praktisi bukan memastikan semua orang setuju, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai kebenaran dan integritas terus disuarakan. Ilmu yang diamalkan dengan konsisten, pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri untuk memberi dampak.

Di tengah tantangan dunia pengadaan yang semakin kompleks—perubahan regulasi, tuntutan transparansi, dan ekspektasi publik yang tinggi—peran pengajar dan praktisi menjadi semakin penting. Kita bukan hanya pelaksana sistem, tetapi juga penjaga nilai. Dan nilai itu hanya bisa hidup jika terus diwariskan melalui proses belajar dan berbagi.
Saya berharap, setiap peserta pelatihan yang pernah saya temui dapat melangkah pulang dengan lebih dari sekadar catatan materi. Saya berharap mereka membawa pulang kesadaran bahwa pengadaan adalah ladang pengabdian. Bahwa ilmu yang mereka miliki kelak bisa menjadi jalan manfaat bagi banyak orang, meski sering kali tidak terlihat dan tidak terdengar.
Akhirnya, saya kembali pada pesan yang sederhana namun mendalam: berbagilah ilmumu, selagi waktu masih mempersilakan kita untuk memberi. Karena pada saat kita berhenti berbagi, di situlah ilmu mulai kehilangan maknanya. Dan selama masih ada yang membutuhkan, mengamalkan pengetahuan adalah bentuk tanggung jawab sekaligus ibadah.

Semoga setiap ruang pelatihan, setiap diskusi, dan setiap ilmu yang dibagikan menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya. Bagi peserta, bagi institusi, dan bagi bangsa yang kita cintai bersama.



