Pengadaan yang Terlihat Legal Belum Tentu Berintegritas

Dalam tradisi administrasi pemerintahan di Indonesia, hukum sering kali diperlakukan sebatas perisai pelindung alih-alih kompas penuntun moral. Selama seluruh tumpukan map tebal berisi berkas administrasi telah terstempel rapi, tanda tangan pejabat berwenang dibubuhkan di atas meterai, dan tahapan di portal…

Tender Selesai Bukan Berarti Pengadaan Selesai

Euforia terbesar dalam birokrasi pengadaan barang dan jasa pemerintah (PBJ) di Indonesia hampir selalu terjadi saat proses pemilihan penyedia tuntas. Ketika pemenang tender telah diumumkan di portal SPSE, masa sanggah berlalu tanpa gugatan, dan surat perjanjian kontrak resmi ditandatangani di…

Ketika Keputusan Pengadaan Tidak Sepenuhnya Berada di Tangan Orang Pengadaan

Dalam lembaran peraturan perundang-undangan dan modul pelatihan pengadaan publik, posisi pengelola pengadaan digambarkan sangat berdaulat. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) secara normatif memegang kendali penuh atas perencanaan, penetapan spesifikasi, kalkulasi Harga Perkiraan Sendiri (HPS), hingga penandatanganan kontrak. Di sisi lain, Kelompok…

Lebih Penting Mana: Patuh Aturan atau Mencapai Tujuan?

Di panggung pengadaan barang dan jasa publik, para praktisi kerap dihadapkan pada pertanyaan filosofis yang membelah cara pandang birokrasi: mana yang sesungguhnya lebih utama, kepatuhan mutlak pada teks aturan (rule compliance) atau tercapainya tujuan substantif pengadaan (goal achievement)? Pertanyaan ini…

Terlalu Banyak Aturan, Tetapi Mengapa Masih Banyak Masalah Pengadaan?

Di panggung birokrasi pemerintahan dan sektor publik Indonesia, pengadaan barang dan jasa barangkali merupakan bidang tugas yang paling padat regulasi. Lembaran Peraturan Presiden terus diperbarui secara berkala, puluhan Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) diterbitkan silih berganti, ratusan Surat…