Bencana alam selalu datang tanpa aba-aba. Di tengah kesibukan kita menjalankan tugas dan tanggung jawab profesional, kabar tentang banjir besar yang melanda wilayah Sumatera dan Aceh menjadi pengingat keras bahwa di atas segala perencanaan dan sistem yang kita bangun, ada sisi kemanusiaan yang tidak boleh pernah terabaikan. Sebagai seorang praktisi pengadaan, sekaligus Ketua Umum Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia (IAPI), momen ini menjadi ruang refleksi mendalam bagi saya tentang makna peran pengadaan di saat krisis kemanusiaan terjadi.
Alhamdulillah, saya bersama jajaran pengurus IAPI berkesempatan menghadiri dan berpartisipasi dalam kegiatan Doa Bersama Pengadaan Peduli Bencana yang diinisiasi oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata kepedulian dan solidaritas insan pengadaan terhadap saudara-saudara kita yang tengah diuji oleh musibah banjir.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala LKPP, Ibu Sarah Sadiqa, Ketua Umum IFPI, serta para pejabat dan insan pengadaan dari berbagai latar belakang. Kehadiran para pemangku kepentingan pengadaan dalam satu ruang doa memperlihatkan bahwa pengadaan bukan hanya soal regulasi, kontrak, dan anggaran, tetapi juga tentang empati, kepedulian, dan rasa kemanusiaan yang menyatukan kita semua.
Dalam sambutannya, Ibu Sarah menyampaikan apresiasi atas kebersamaan dan solidaritas seluruh insan pengadaan. Beliau menekankan bahwa kekuatan terbesar kita bukan hanya pada sistem dan kebijakan, tetapi pada kebersamaan untuk saling menguatkan, khususnya bagi masyarakat yang terdampak bencana. Pesan tersebut sangat membekas bagi saya secara pribadi. Sebab, di tengah dinamika dunia pengadaan yang sering kali dihadapkan pada tekanan administratif dan target kinerja, suara empati seperti ini menjadi penyeimbang yang sangat penting.

Sebagai praktisi pengadaan, saya menyadari bahwa peran kita dalam situasi bencana sering kali bersifat krusial. Pengadaan menjadi instrumen strategis dalam memastikan bantuan dapat tersalurkan secara cepat, tepat, dan akuntabel. Namun, lebih dari itu, pengadaan juga harus dijalankan dengan hati. Kecepatan proses tidak boleh menghilangkan rasa kemanusiaan, dan kepatuhan regulasi harus berjalan seiring dengan kepekaan sosial.
Melalui forum doa bersama ini, saya melihat bagaimana insan pengadaan dari berbagai institusi melebur tanpa sekat jabatan dan organisasi. Kita hadir sebagai manusia yang sama-sama berdoa, berharap, dan menitipkan harapan agar saudara-saudara kita yang terdampak banjir diberikan kekuatan, kesabaran, serta jalan keluar terbaik dari musibah yang sedang mereka alami.
Bagi IAPI, keterlibatan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk selalu hadir di tengah masyarakat. Selama ini, IAPI dikenal melalui peran edukasi, sertifikasi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengadaan. Namun saya percaya, peran tersebut harus dilengkapi dengan kepedulian sosial yang nyata. Keahlian profesional tanpa empati akan terasa kering, dan pengetahuan tanpa kepedulian akan kehilangan maknanya.
Bencana banjir di Sumatera dan Aceh bukan sekadar angka statistik atau laporan media. Di baliknya, ada keluarga yang kehilangan rumah, anak-anak yang terputus aktivitas belajarnya, serta masyarakat yang harus memulai kembali kehidupan dari nol. Doa yang kita panjatkan mungkin terlihat sederhana, tetapi saya meyakini bahwa doa yang tulus, disertai dengan aksi nyata, akan menjadi energi besar bagi mereka yang sedang berjuang.
Sebagai insan pengadaan, momen ini juga mengingatkan saya bahwa tata kelola pengadaan yang baik sejatinya harus adaptif terhadap situasi darurat. Kita perlu terus mendorong penguatan kapasitas pengadaan darurat, memperbaiki mekanisme respon cepat, serta memastikan bahwa nilai-nilai integritas dan akuntabilitas tetap terjaga, bahkan dalam kondisi krisis sekalipun.
Doa bersama ini menjadi simbol bahwa pengadaan tidak berdiri di menara gading. Kita hadir, mendengar, dan merasakan denyut nadi masyarakat. Di sinilah letak kekuatan sejati profesi pengadaan: menjadi jembatan antara kebijakan dan kemanusiaan, antara regulasi dan empati.
Saya secara pribadi merasa terhormat dapat berdiri bersama para insan pengadaan lainnya dalam kegiatan ini. Ada rasa haru sekaligus tanggung jawab yang besar. Haru karena melihat kebersamaan yang tulus, dan tanggung jawab karena menyadari bahwa peran kita ke depan tidak semakin ringan. Tantangan bencana, perubahan iklim, dan kompleksitas kebutuhan masyarakat menuntut insan pengadaan untuk terus belajar, beradaptasi, dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

Akhir kata, saya berharap bantuan, doa, dan kepedulian yang kita hadirkan melalui kegiatan ini menjadi keberkahan bagi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Semoga mereka diberikan kekuatan untuk bangkit, dan semoga kita semua diberi kepekaan untuk terus hadir, tidak hanya sebagai profesional pengadaan, tetapi juga sebagai sesama manusia yang saling menguatkan.
Karena pada akhirnya, pengadaan yang bermakna bukan hanya tentang apa yang kita beli atau proseskan, tetapi tentang siapa yang kita bantu dan nilai apa yang kita perjuangkan.



