Pergantian tahun selalu menghadirkan ruang jeda yang berharga. Sebuah momen untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, lalu menata langkah ke depan dengan kesadaran yang lebih jernih. Bagi saya pribadi, tahun yang telah dilalui adalah perjalanan penuh pelajaran, dinamika, dan amanah. Alhamdulillah, di tengah segala tantangan dan perubahan, saya masih diberi kesempatan untuk terus mengabdi di dunia pengadaan barang/jasa, bidang yang saya yakini memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas tata kelola dan pelayanan publik di negeri ini.
Sebagai praktisi dan ahli pengadaan, sekaligus Ketua Umum Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia (IAPI) dan Ketua Lembaga Pengembangan dan Konsultasi Nasional (LPKN), rasa syukur menjadi fondasi utama dalam menutup lembaran tahun sebelumnya. Syukur atas kepercayaan, kesempatan, dan ruang kontribusi yang terus terbuka, baik dalam pengadaan pemerintah maupun swasta, serta dalam upaya pengembangan sumber daya manusia aparatur negara.
Tahun-tahun terakhir bukanlah periode yang mudah. Dunia pengadaan dihadapkan pada perubahan regulasi yang dinamis, tuntutan transparansi yang semakin tinggi, serta ekspektasi publik yang kian kritis. Namun justru di situlah saya melihat pengadaan tumbuh dan bertransformasi. Pengadaan tidak lagi dipandang sekadar urusan administratif, tetapi mulai ditempatkan sebagai instrumen strategis pembangunan dan pengungkit kepercayaan publik.
Melalui IAPI, saya menyaksikan bagaimana semangat profesionalisme para insan pengadaan terus menguat. Diskusi, pelatihan, sertifikasi, dan forum-forum berbagi praktik baik menjadi bukti bahwa pengadaan Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih matang. Sementara melalui LPKN, saya merasakan langsung denyut kebutuhan peningkatan kapasitas aparatur pemerintah, bahwa SDM pengadaan bukan hanya perlu paham aturan, tetapi juga harus memiliki integritas, kepekaan, dan keberanian moral.
Menutup tahun yang telah berlalu, saya belajar bahwa pengadaan yang baik tidak lahir dari sistem semata, tetapi dari manusia yang menjalankannya. Regulasi, teknologi, dan prosedur hanyalah alat. Nilai sejatinya terletak pada sikap amanah, komitmen pada kepentingan publik, serta kesediaan untuk terus belajar dan berbenah.
Memasuki tahun 2026, saya menyimpan optimisme yang besar. Saya melihat peluang yang luas bagi pengadaan barang/jasa, baik di sektor pemerintahan maupun swasta, untuk melangkah ke fase yang lebih strategis dan berdampak. Transformasi digital yang terus berkembang, pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan, serta penguatan ekosistem pengadaan nasional menjadi modal penting untuk melangkah lebih jauh.
Di sektor pemerintahan, saya berharap pengadaan semakin berorientasi pada nilai dan manfaat, bukan sekadar kepatuhan prosedural. Evaluasi tidak hanya berhenti pada harga terendah, tetapi juga mempertimbangkan kualitas, keberlanjutan, risiko, dan dampak sosial. Pengadaan harus menjadi alat untuk menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih adil bagi masyarakat.
Sementara di sektor swasta, pengadaan memiliki peluang besar untuk menjadi sumber keunggulan kompetitif. Strategic sourcing, manajemen hubungan pemasok, dan integrasi rantai pasok akan semakin menentukan daya saing perusahaan. Saya optimis bahwa kolaborasi antara pemerintah dan swasta dalam ekosistem pengadaan dapat menciptakan sinergi yang saling menguatkan, terutama dalam mendorong produk dan jasa dalam negeri.
Tahun 2026 juga saya pandang sebagai momentum penting bagi penguatan kompetensi SDM pengadaan. Tantangan ke depan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga etis dan strategis. Oleh karena itu, pengembangan kapasitas harus melampaui aspek regulasi, mencakup kepemimpinan, manajemen risiko, negosiasi, serta pemahaman menyeluruh tentang tata kelola yang baik.
Sebagai Ketua Umum IAPI, harapan saya adalah agar organisasi profesi semakin menjadi rumah bersama bagi para ahli pengadaan. Rumah untuk belajar, berbagi, dan menjaga marwah profesi. IAPI harus terus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dan dunia usaha, sekaligus sebagai penjaga nilai profesionalisme dan integritas pengadaan di Indonesia.
Melalui LPKN, saya berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam peningkatan kualitas SDM aparatur pemerintah. Pelatihan dan pendampingan tidak boleh berhenti pada pemenuhan kewajiban, tetapi harus mampu menumbuhkan kesadaran bahwa pengadaan adalah ladang pengabdian. Setiap keputusan pengadaan adalah amanah yang dampaknya dirasakan oleh banyak orang.
Saya juga menyadari bahwa tantangan pengadaan ke depan akan semakin kompleks. Isu keberlanjutan, transparansi global, hingga tuntutan efisiensi fiskal akan terus menguji ketangguhan sistem dan manusia di baliknya. Namun saya percaya, dengan kolaborasi, keterbukaan, dan semangat belajar yang berkelanjutan, pengadaan Indonesia mampu menjawab tantangan tersebut.
Optimisme saya di tahun 2026 bukanlah optimisme tanpa dasar. Ia bertumpu pada pengalaman, pembelajaran, dan keyakinan bahwa semakin banyak insan pengadaan yang bekerja dengan hati dan akal sehat. Bahwa perubahan, meski tidak selalu cepat, sedang dan akan terus berlangsung.
Akhirnya, menatap tahun 2026, saya melangkah dengan rasa syukur dan harapan. Syukur atas perjalanan yang telah ditempuh, dengan segala dinamika dan pembelajarannya. Harapan bahwa pengadaan barang/jasa baik pemerintah maupun swasta akan semakin profesional, berintegritas, dan memberi manfaat nyata bagi bangsa.
Semoga di tahun ini, kita semua para insan pengadaan diberi kekuatan untuk terus menjaga amanah, keberanian untuk berinovasi, dan kebijaksanaan dalam setiap keputusan. Karena pada akhirnya, pengadaan bukan hanya tentang apa yang kita beli, tetapi tentang nilai apa yang kita jaga dan masa depan apa yang ingin kita bangun bersama.



