Ada masa ketika pengadaan dianggap sebagai bagian administratif belaka — bagian yang mengurusi dokumen, lelang, dan harga terendah. Tapi setelah membaca buku Procurement at a Crossroads karya Jon Hansen dan Kelly Barner, saya sadar bahwa dunia pengadaan kini sedang berada di persimpangan penting: apakah kita tetap menjadi pengelola proses, atau naik kelas menjadi penggerak strategi organisasi.
Sebagai seseorang yang berkecimpung dalam dunia pengadaan publik di Indonesia, saya merasa buku ini seperti cermin yang memperlihatkan tantangan yang sedang kita hadapi: digitalisasi yang cepat, tekanan efisiensi, perubahan peran SDM pengadaan, hingga tuntutan transparansi. Hansen dan Barner menulis dengan bahasa yang lugas, kritis, dan kadang provokatif — seolah mengguncang kenyamanan kita agar berani bertransformasi.
Isi dan Konsep Utama Buku
Buku ini berangkat dari satu pertanyaan mendasar:
“Ke mana arah masa depan profesi pengadaan?”
Hansen dan Barner berargumen bahwa dunia pengadaan sedang berada di titik kritis. Perubahan teknologi, globalisasi rantai pasok, dan ekspektasi baru dari manajemen membuat fungsi pengadaan tak bisa lagi hanya fokus pada prosedur atau kepatuhan.
Mereka membagi pembahasan ke dalam beberapa tema besar:
Transformasi peran pengadaan – dari sekadar administratif menjadi mitra strategis bisnis.
Dampak teknologi dan otomatisasi – bagaimana digitalisasi bisa memperkuat, atau justru menggantikan peran manusia.
Hubungan manusia dan teknologi – bagaimana praktisi pengadaan harus menyeimbangkan data, analisis, dan intuisi.
Kolaborasi lintas fungsi – peran pengadaan dalam menciptakan nilai bersama dengan divisi lain dan pemasok.
Pemikiran baru tentang nilai (value) – pengadaan bukan hanya soal harga terendah, tapi tentang dampak dan keberlanjutan.
Buku ini tidak menawarkan “resep instan”, tapi lebih sebagai panduan reflektif — mengajak pembaca merenung, “Apakah fungsi pengadaan kita sudah bergerak ke arah yang benar?”
Ada beberapa gagasan kuat dari buku ini yang menurut saya sangat relevan untuk konteks Indonesia, terutama di sektor publik dan BUMN.
Pengadaan Harus Berani Berubah
Hansen dan Barner menekankan bahwa pengadaan tidak bisa terus berlindung di balik aturan. Dunia berubah terlalu cepat. Teknologi otomatisasi, sistem e-procurement, dan kecerdasan buatan (AI) sudah mulai mengambil alih pekerjaan administratif.
Jika fungsi pengadaan tidak ikut bertransformasi, maka kita akan “terpinggirkan” — bukan karena tidak dibutuhkan, tapi karena tidak lagi relevan.
Ini mengingatkan saya pada kondisi pengadaan di Indonesia yang kini bergerak menuju digitalisasi penuh, mulai dari SPSE, e-Katalog, hingga E-Kontrak. Namun, banyak SDM pengadaan masih berpikir bahwa tugas mereka hanya “mengikuti prosedur”. Padahal, nilai tambah justru muncul ketika kita mampu membaca data, menafsirkan pasar, dan memberi rekomendasi strategis.
Nilai (Value) Lebih Penting dari Harga
Buku ini sangat menentang paradigma “harga terendah”. Menurut Hansen dan Barner, keberhasilan pengadaan tidak diukur dari berapa banyak biaya yang dihemat, tetapi dari berapa besar nilai yang diciptakan — baik dalam bentuk efisiensi jangka panjang, keberlanjutan lingkungan, maupun inovasi pemasok.
Konsep ini sejalan dengan arah perubahan regulasi di Indonesia, di mana pengadaan pemerintah kini mulai mengakui konsep Value for Money. Namun dalam praktiknya, masih banyak yang terjebak pada angka harga terendah tanpa melihat kualitas dan risiko jangka panjang.
Pengadaan Adalah Fungsi Strategis, Bukan Sekadar Proses
Salah satu bab favorit saya berjudul “From Process to Purpose”. Di sini penulis menjelaskan bahwa pengadaan harus menjadi bagian dari strategi organisasi — bukan unit administratif yang bekerja di belakang meja.
Mereka mencontohkan organisasi yang sukses mengubah pengadaan menjadi fungsi strategis dengan cara:
- Melibatkan pengadaan sejak tahap perencanaan.
- Membangun kemitraan jangka panjang dengan pemasok utama.
- Menggunakan data dan analisis pasar untuk mengambil keputusan.
Ini menjadi tantangan besar di Indonesia, di mana peran pengadaan publik sering kali baru dimulai saat dokumen sudah siap. Padahal, jika pelaksana pengadaan dilibatkan sejak awal, mereka bisa membantu menyusun spesifikasi yang lebih realistis dan kompetitif.
SDM Pengadaan Butuh Pola Pikir Baru
Hansen dan Barner menulis dengan sangat jujur: “The biggest barrier to procurement evolution is not technology — it’s mindset.”
Buku ini menegaskan bahwa transformasi digital tidak akan berarti apa-apa jika orang-orang di baliknya masih berpikir lama. Perubahan paling penting justru terjadi di cara berpikir SDM pengadaan — dari sekadar “mengikuti aturan” menjadi “menciptakan nilai”.
Di Indonesia, ini menjadi pesan penting. Kita memang sudah memiliki sistem e-procurement yang maju, tapi masih banyak SDM yang belum memiliki orientasi strategis. Buku ini mengingatkan bahwa keberhasilan pengadaan modern ditentukan oleh kemampuan analitis, komunikasi, dan kolaborasi, bukan sekadar kemampuan administratif.
Relevansi dengan Pengadaan di Indonesia
Membaca buku ini, saya merasa banyak poinnya bisa diterapkan dalam konteks pengadaan pemerintah dan BUMN di Indonesia.
Regulasi kita seperti Perpres 16 Tahun 2018 dan Perpres 12 Tahun 2021 sudah memberikan ruang bagi inovasi — misalnya konsep value for money, kemitraan jangka panjang, dan pengadaan berkelanjutan. Namun, praktik di lapangan masih sering terjebak dalam pendekatan yang prosedural.
Jika mengacu pada pesan utama buku ini, maka arah pengadaan Indonesia ke depan seharusnya:
- Lebih fokus pada strategi jangka panjang, bukan hanya siklus tahunan.
- Membangun hubungan kemitraan dengan penyedia, bukan sekadar hubungan kontraktual.
- Memanfaatkan data pengadaan nasional (dari SPSE dan e-Katalog) untuk analisis pasar, bukan hanya dokumentasi.
- Menyiapkan SDM pengadaan yang adaptif, analitis, dan berorientasi nilai.
Dengan kata lain, pengadaan publik di Indonesia juga sedang berada di “crossroads” seperti yang dimaksud Hansen dan Barner. Kita bisa memilih tetap nyaman dengan pola lama yang aman tapi stagnan, atau melangkah ke arah baru yang lebih strategis dan bernilai tinggi.
Apa yang Bisa Dicontoh
Dari buku ini, saya mencatat beberapa pelajaran yang bisa langsung kita terapkan:
Jadikan data sebagai alat strategi.
Jangan hanya mengumpulkan data tender, tapi analisislah untuk memahami tren harga, performa vendor, dan peluang efisiensi.
Bangun komunikasi lintas fungsi.
Libatkan pengadaan dalam tahap perencanaan agar kebutuhan lebih terarah dan spesifikasi tidak dibuat secara sepihak.
Kembangkan kemitraan dengan pemasok.
Vendor bukan lawan, melainkan mitra untuk mencapai tujuan bersama — terutama dalam pengadaan berkelanjutan dan inovatif.
Dorong perubahan pola pikir SDM.
Pelatihan pengadaan seharusnya tidak hanya soal aturan, tapi juga manajemen strategi, analisis data, dan kemampuan negosiasi.
Gunakan teknologi untuk memperkuat keputusan, bukan menggantikannya.
Digitalisasi seharusnya mempercepat proses dan memperkaya analisis, tapi tetap membutuhkan kebijaksanaan manusia. Penutup: Persimpangan Jalan yang Menentukan Masa Depan
Buku Procurement at a Crossroads adalah bacaan reflektif yang menggugah kesadaran kita tentang posisi pengadaan saat ini. Ia tidak hanya membahas alat atau teknik, tapi tentang identitas profesi pengadaan itu sendiri.
Bagi saya, buku ini seperti alarm lembut — mengingatkan bahwa dunia pengadaan harus berani memilih arah. Apakah kita akan tetap menjadi penjaga prosedur, atau melangkah menjadi penggerak nilai bagi organisasi dan negara?
Dalam konteks Indonesia, pilihan itu semakin nyata. Dengan kemajuan e-procurement dan transformasi digital pemerintah, peran pengadaan bisa menjadi kekuatan strategis pembangunan jika dijalankan dengan visi dan keberanian berinovasi.
Hansen dan Barner menulis,
“Procurement is not about what we buy, but about how we think.”
Dan mungkin, di titik persimpangan inilah kita harus memutuskan — untuk mulai berpikir dengan cara baru.



