Sebagai praktisi pengadaan, saya meyakini bahwa integritas adalah fondasi utama yang menentukan arah dan kualitas seluruh proses. Tanpa integritas, aturan kehilangan makna, sistem kehilangan fungsi, dan hasil pengadaan kehilangan kepercayaan publik. Namun justru di titik inilah tantangan terbesar muncul. Integritas pengadaan tidak diuji saat semuanya berjalan normal, melainkan ketika tekanan kepentingan datang bertubi-tubi dari berbagai arah.
Dalam praktik sehari-hari, tekanan kepentingan bukanlah sesuatu yang abstrak. Ia hadir dalam bentuk arahan halus, permintaan tersirat, bahkan dorongan yang dibungkus dengan bahasa kebijakan. Ada kepentingan program, kepentingan anggaran, kepentingan organisasi, hingga kepentingan individu. Tidak semuanya bermakna buruk, tetapi ketika kepentingan tersebut mulai memengaruhi independensi keputusan pengadaan, integritas berada di persimpangan.
Saya sering melihat bagaimana pelaksana pengadaan berada dalam posisi yang sunyi. Di satu sisi dituntut patuh pada regulasi dan etika, di sisi lain dihadapkan pada ekspektasi atasan, rekan kerja, atau pihak eksternal yang memiliki kuasa. Dalam kondisi seperti ini, integritas bukan lagi konsep teoritis, melainkan pilihan pribadi yang penuh risiko.
Tekanan sering kali tidak datang dalam bentuk perintah langsung. Justru yang paling sulit adalah tekanan yang dibungkus dengan dalih kepentingan organisasi. Kalimat seperti “demi kelancaran program”, “agar anggaran terserap”, atau “ini hanya penyesuaian kecil” terdengar wajar, bahkan rasional. Namun di balik itu, sering tersembunyi kompromi terhadap prinsip dasar pengadaan yang jujur dan adil.
Pengadaan yang berintegritas menuntut keberanian untuk mengatakan tidak. Dan keberanian ini tidak mudah tumbuh dalam sistem yang belum sepenuhnya melindungi profesional pengadaan. Banyak pelaksana memilih diam atau mengikuti arus demi menjaga posisi dan keamanan pribadi. Integritas pun perlahan berubah menjadi beban, bukan nilai yang dihargai.
Dari sudut pandang dunia usaha, lemahnya integritas menciptakan ketidakpercayaan terhadap proses pengadaan. Penyedia yang berkompeten dan beritikad baik merasa peluangnya ditentukan bukan oleh kualitas, melainkan oleh kedekatan dan akses. Akibatnya, pasar menjadi tidak sehat dan pengadaan kehilangan potensi terbaiknya.
Saya juga menyadari bahwa sistem dan teknologi, sebaik apa pun dirancang, tidak bisa sepenuhnya menjamin integritas. Sistem hanya mengikuti input manusia. Ketika manusia di dalamnya sudah berkompromi, maka hasilnya tetap menyimpang, meskipun secara prosedural terlihat rapi. Integritas tetap merupakan kualitas personal yang tidak bisa diotomatisasi.
Dalam konteks ini, budaya organisasi memegang peran kunci. Integritas tidak akan bertahan jika lingkungan kerja justru memberi penghargaan pada kepatuhan semu dan hasil instan. Organisasi perlu menunjukkan bahwa keputusan berintegritas, meskipun tidak populer, tetap dihormati dan dilindungi. Tanpa dukungan institusional, integritas individu mudah terkikis.
Sebagai praktisi dan pembina sumber daya manusia pengadaan, saya percaya bahwa integritas harus dibangun sejak awal melalui pendidikan dan keteladanan. Pelatihan pengadaan tidak cukup hanya membahas aturan dan sistem, tetapi juga harus menyentuh dimensi etika dan dilema nyata yang dihadapi di lapangan. Integritas tumbuh dari kesadaran, bukan dari ancaman.
Pengawasan juga perlu diarahkan untuk memperkuat integritas, bukan sekadar mencari kesalahan. Ketika pengawasan menghargai keberanian bersikap benar dan memberi ruang klarifikasi yang adil, pelaksana pengadaan akan lebih percaya diri menjaga prinsipnya. Integritas akan menjadi aset, bukan risiko.
Refleksi ini saya tulis sebagai pengakuan jujur atas tantangan yang kita hadapi bersama. Integritas pengadaan tidak pernah mudah, tetapi selalu penting. Di tengah tekanan kepentingan yang terus ada, pilihan untuk tetap lurus mungkin terasa sunyi, namun di sanalah martabat profesi pengadaan dipertahankan.
Bagi saya, integritas bukan sekadar kepatuhan pada aturan, melainkan komitmen untuk menjaga keadilan proses dan manfaat publik. Jika integritas mampu kita jaga bersama, maka pengadaan Indonesia tidak hanya akan berjalan benar, tetapi juga bermakna dan dipercaya.



