Dalam sebuah acara syukuran purnatugas seorang pejabat senior kementerian, seorang rekan sejawat menepuk bahu saya. Di tengah riuk-pikuk obrolan tentang rencana masa pensiun—ada yang ingin berkebun, membangun bisnis keluarga, hingga menikmati hari tua dengan tenang—ia melemparkan satu pertanyaan yang sangat personal: “Pak, Bapak sudah puluhan tahun bergelut di dunia pengadaan. Sudah memimpin organisasi profesi, menulis banyak analisis, dan keliling Indonesia mendampingi proyek. Mengapa energi Bapak masih terus dicurahkan untuk mengajar, menulis, dan memikirkan pengembangan SDM pengadaan? Bukankah itu pekerjaan yang sangat melelahkan dan sering kali tidak populer?”
Saya tersenyum, menghela napas panjang, lalu memandangi deretan wajah para praktisi muda yang hadir di ruangan itu.
Pertanyaan rekan saya itu sejatinya menembus ke dalam ruang perenungan yang sangat dalam. Di mata sebagian orang, dunia pengadaan barang dan jasa pemerintah adalah arena teknis yang dingin: tempat tumpukan berkas lelang diproses, angka-angka HPS diperdebatkan, dan pasal-pasal peraturan diverifikasi. Bagi banyak pihak, pengadaan bahkan dipandang sebagai zona risiko tinggi—sebuah wilayah rawan yang kerap dihindari oleh para ASN yang ingin cari aman dalam kariernya.
Namun, di mata saya, pengadaan barang dan jasa tidak pernah sekadar persoalan transaksi teknis. Dari sudut pandang yang lebih luas dan humanis, pengadaan adalah urat nadi pembangunan nasional. Dan urat nadi itu tidak digerakkan oleh server komputer yang dingin atau lembaran regulasi yang tebal, melainkan oleh manusia-manusia di belakangnya.
Keputusan saya untuk mewakafkan sisa waktu, energi, dan pemikiran pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) pengadaan bukanlah pilihan karier yang reaktif. Ia adalah sebuah panggilan hidup, sebuah keyakinan moral bahwa jika kita ingin membenahi kualitas peradaban tata kelola bangsa ini, kita harus memulainya dari manusianya.
Pengabaian Manusia
Dalam perjalanan panjang mendampingi berbagai proyek dari Sabang sampai Merauke, saya kerap menyaksikan sebuah paradoks yang memilukan: kita begitu mudah mengalokasikan anggaran triliunan rupiah untuk membangun jembatan, gedung sekolah, dan rumah sakit megah, namun kita sangat pelit berinvestasi untuk membangun kapasitas dan jiwa para manusia yang mengelola anggaran tersebut.
Kita sering kali menuntut seorang Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atau anggota Pokja untuk mengambil keputusan strategis bernilai ratusan miliar rupiah, menahan tekanan politik lokal, serta bertarung di meja negosiasi melawan penyedia raksasa. Namun, di saat yang sama, kita hanya membekali mereka dengan pelatihan kilat yang dangkal, sertifikasi yang berorientasi hafalan pasal, dan perlindungan hukum yang sangat minim.
Ketika proyek di lapangan mengalami kemacetan atau ketika pejabat tersebut terpeleset karena ketidaktahuannya mengenai manajemen risiko, kita dengan sangat mudah menyalahkan dan menghakimi mereka. Kita memperlakukan mereka seperti sekrup kecil dalam mesin raksasa birokrasi—mudah diganti ketika rusak, tetapi tidak pernah dirawat kapasitasnya.
Inilah tragisme tata kelola yang ingin saya ubah. Kita tidak bisa mengharapkan lahirnya belanja publik yang berkualitas dan berkeadilan jika kita terus membiarkan para pengelolanya bekerja dalam ketakutan, ketidakpahamannya atas ilmu pasar, dan ketiadaan pendampingan kapasitas yang berkelanjutan.
Alasan Fundamental Sebuah Pengabdian
Mengapa pengembangan SDM pengadaan menjadi pijakan hidup yang saya pilih dengan penuh rasa bangga? Ada tiga alasan fundamental yang melandasinya:
1. Karena Satu SDM yang Cerdas dan Berintegritas Menyematkan Triliunan Uang Rakyat
Dalam dunia pengadaan, efek domino dari kapasitas satu orang SDM sangatlah luar biasa. Ketika kita berhasil mendidik dan menempa seorang pejabat pengadaan menjadi sosok yang memiliki kecerdasan komersial (commercial acumen), paham mitigasi risiko, dan berani bersikap jujur, kita sesungguhnya sedang menyerap potensi pemborosan anggaran bernilai ratusan miliar rupiah. Lebih dari itu, kita sedang memastikan bahwa obat-obatan sampai ke puskesmas, bahwa bangunan sekolah kokoh menampung anak-anak bangsa, dan bahwa jalan desa benar-benar menghubungkan rantai ekonomi rakyat kecil. Mendidik satu insan pengadaan adalah melipatgandakan manfaat bagi jutaan rakyat.
2. Karena Mengubah Mindset Adalah Wujud Tertinggi dari Reformasi Tata Kelola
Membuat aplikasi e-procurement baru bisa diselesaikan dalam hitungan bulan oleh para pemrogram komputer. Menerbitkan Peraturan Presiden jilid baru bisa disahkan dalam hitungan minggu oleh para perancang hukum. Namun, mengubah cara berpikir (mental model) seorang pengelola pengadaan—dari rasa takut menjadi berani, dari sekadar patuh berkas (compliance) menjadi pencipta nilai (value creator), dari berpikir transaksi klerikal menjadi pemikir strategis—membutuhkan ketekunan, keteladanan, dan proses pembelajaran sepanjang hayat. Mengembangkan SDM adalah merawat jiwa dari reformasi tata kelola itu sendiri.
3. Karena Mereka Butuh Teman Berpikir dan Benteng Perlindungan Moral
Para praktisi pengadaan di lapangan sering kali berada dalam posisi yang sangat sunyi dan rentan. Mereka berhadapan dengan godaan materi di satu sisi, tekanan atasan di sisi lain, dan bayang-bayang pemeriksaan hukum di ujung jalan. Melalui penulisan buku, pemikiran di media, forum-forum edukasi, dan pembinaan organisasi profesi, saya ingin hadir untuk mereka. Saya ingin memberikan mereka kepastian bahwa mereka tidak bertarung sendirian. Saya ingin membekali mereka dengan ilmu analitik yang tajam dan keteguhan moral, agar mereka memiliki keberanian intelektual untuk berkata “tidak” pada kecurangan dan berkata “ya” pada kualitas.
Menanam Pohon Pelindung
Untuk menggambarkan filosofi pengabdian dalam pengembangan SDM ini, saya selalu teringat pada sebuah perumpamaan klasik yang sangat indah:
Seperti Petani yang Menanam Pohon Peneduh di Tepi Jalan Utama
Seorang petani tua yang menanam bibit pohon beringin di pinggir jalan raya tahu betul bahwa ia mungkin tidak akan pernah sempat duduk menikmati rindangnya bayangan daun pohon tersebut saat tumbuh raksasa puluhan tahun mendatang. Namun, ia tetap menanamnya dengan penuh rasa syukur, karena ia tahu bahwa di masa depan, ribuan musafir yang kelelahan akan berteduh di bawah pohon itu dari teriknya sengatan matahari. Mendidik dan membina SDM pengadaan muda hari ini adalah menanam pohon peneduh tersebut bagi masa depan tata kelola Indonesia.
Seperti Master Arsitek yang Menempa Para Pengrajin Batu
Seorang master arsitek yang merancang katedral megah tidak bisa membangun seluruh dinding dan menara seorang diri. Tugas teragungnya adalah menempa para pemahat batu dan pengrajin kayu agar memiliki presisi, keahlian, dan rasa bangga atas karya mereka. Ketika para pengrajin itu memahami bahwa batu yang mereka pahat bukan sekadar sekumpulan semen dan pasir, melainkan tempat beribadah dan tugu peradaban, maka mutu bangunan tersebut akan bertahan melintasi zaman.
Seperti Pelatih Pelari Estafet yang Menyerahkan Tongkat Kepemimpinan
Seorang pelatih lari tidak ikut berlari di dalam lintasan pertandingan. Tugasnya adalah memastikan bahwa otot, pernapasan, dan mentalitas para pelari mudanya berada dalam kondisi terbaik, serta melatih mereka bagaimana cara menyerahkan tongkat estafet tanpa pernah terjatuh. Saya memandang peran saya hari ini sebagai pelatih estafet tersebut: menyiapkan generasi baru profesional pengadaan yang akan berlari lebih cepat, lebih jauh, dan lebih tangguh daripada generasi kami.
Ekosistem SDM Masa Depan
Mengabdi pada pengembangan SDM pengadaan tidak boleh berhenti pada retorika inspiratif di atas panggung seminar. Pengabdian ini harus diwujudkan dalam kerangka aksi yang nyata dan berdampak panjang (Sustainable Impact Framework):
Mendorong Transformasi Kurikulum dan Metode Pembelajaran
Kita harus terus memperjuangkan pergeseran kurikulum pelatihan pengadaan nasional: dari yang selama ini didominasi hafalan pasal kaku menuju Problem-Based Learning, analisis kasus riil (real-world case study), penguasaan kecerdasan komersial, literasi kecerdasan buatan (AI), dan simulasi negosiasi bisnis. Kita harus melatih intuisi dan ketajaman analisis para praktisi, bukan daya ingat jangka pendek mereka.
Memperjuangkan Kehormatan, Jalur Karier, dan Perlindungan Profesi
Saya akan terus menggunakan ruang publik dan jaringan kepemimpinan untuk menyuarakan pentingnya pengakuan terhadap profesi pengadaan. Pengelola pengadaan harus memiliki jalur karier fungsional yang menjanjikan, remunerasi yang sepadan dengan besarnya risiko yang ditanggung, serta jaminan perlindungan hukum atas pertimbangan profesional (professional judgment) yang diambil berdasarkan iktikad baik dan data yang sah.
Membangun Generasi Procurement Leader Berjiwa Pembelajar
Melalui berbagai wadah kepemimpinan dan asosiasi profesi, fokus utama saya adalah melahirkan generasi Procurement Leader baru: anak-anak muda yang tidak hanya cerdas secara teknis dan fasih bertransaksi di era digital, tetapi memiliki integritas yang tak ternilai harganya, kecintaan pada tanah air, dan kerendahan hati untuk terus belajar sepanjang hayat.
Janji pada Masa Depan
Setiap kali saya berdiri di hadapan ratusan insan pengadaan dari seluruh penjuru nusantara—melihat binar mata para pejabat muda dari daerah terpencil yang haus akan ilmu, mendengarkan cerita perjuangan mereka menjaga integritas di tengah himpitan tekanan—dada saya selalu bergetar oleh rasa haru dan optimisme.
Di mata mereka, saya tidak melihat birokrat-birokrat yang dingin. Di mata mereka, saya melihat para pahlawan sunyi pembangunan bangsa.
Mereka adalah orang-orang yang setiap hari memegang penanya untuk menandatangani masa depan jalan raya, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas publik negeri ini. Jika kita membimbing mereka dengan ilmu yang benar, membentengi mereka dengan integritas, dan memberikan mereka rasa percaya diri, maka dari tangan-tangan merekalah akan lahir Indonesia yang maju, mandiri, dan bermartabat.
Pengabdian pada pengembangan SDM pengadaan mungkin bukanlah jalan yang menjanjikan kemewahan panggung atau tepuk tangan yang riuh. Ia adalah jalan sunyi yang menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan pengorbanan waktu.
Namun, inilah jalan yang telah saya pilih dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.
Selama nafas masih dikandung badan, selama pikiran masih sanggup merangkai logika, dan selama hati masih bergetar melihat harapan rakyat akan pelayanan publik yang lebih baik, saya akan terus berdiri di garis depan: mengajar, menulis, mendampingi, dan memperjuangkan harkat serta martabat para profesional pengadaan Indonesia.
Sebab saya percaya sepenuhnya pada sebuah kebenaran abadi: ketika kita menginvestasikan hidup kita untuk membangun manusianya, kita sesungguhnya sedang membangun masa depan bangsa yang tak akan pernah bisa diruntuhkan oleh zaman.



